Cara berkata tidak tanpa merasa bersalah
Berkata tidak sering terasa egois, jadi banyak orang berkata ya lalu merasa kewalahan atau menyimpan kesal. Komunikasi asertif adalah jalan tengah antara mengalah dan melawan: kamu mengatakan apa yang kamu pikirkan dan butuhkan, dengan jelas dan tenang, sambil tetap menghormati orang lain. Penolakan bisa singkat, baik, dan tetap sebuah penolakan.
Poin penting
- Bersikap asertif bukan berarti agresif; sikap ini menghormati kebutuhanmu dan kebutuhan mereka.
- Rasa bersalah sering datang dari prediksi tentang bagaimana orang lain akan bereaksi.
- Penolakan yang jelas punya tiga bagian: apa yang kamu dengar, jawabanmu, dan apa yang bisa kamu tawarkan kalau kamu mau.
- Dengan latihan, semuanya jadi lebih mudah, dimulai dari permintaan yang taruhannya kecil.
Kenapa berkata tidak begitu sulit?
Rekan kerja memintamu menggantikan sif kerjanya. Seorang teman minta dibantu pindahan rumah di satu-satunya akhir pekan kosongmu dalam sebulan. Seorang kerabat meminta tolong untuk sesuatu yang tidak sempat kamu kerjakan. Kamu mendengar dirimu berkata “Iya, nggak apa-apa” sebelum sempat berpikir, lalu menghabiskan seminggu dengan merasa kewalahan dan diam-diam kesal.
Banyak orang merasa “tidak” adalah salah satu kata yang paling sulit diucapkan. Kata itu bisa terasa kasar, egois, atau tidak baik, terutama kalau kamu dibesarkan untuk mendahulukan orang lain, atau kalau kamu khawatir orang akan jadi kurang menyukaimu. Jadi “ya” keluar begitu saja, dan harganya baru terasa belakangan: lelah, kesal, dan waktu yang makin sedikit untuk hal-hal dan orang-orang yang paling berarti bagimu.
Apa sebenarnya arti bersikap asertif?
Kira-kira ada tiga cara menanggapi saat seseorang meminta sesuatu yang tidak ingin kamu berikan.
- Pasif: kamu menurut saja dan menyimpan pendapatmu sendiri. “Oke, deh.” Cara ini menghindari konflik saat itu, tetapi sering menumpuk rasa kesal.
- Agresif: kamu membela kebutuhanmu dengan menekan orang lain. “Serius? Aku bukan asistenmu.” Kamu mendapatkan penolakanmu, dengan harga yang dibayar oleh hubungan kalian.
- Asertif: kamu mengatakan apa yang kamu pikirkan dan butuhkan, dengan jelas dan tenang, sambil tetap menghormati orang lain. “Aku lihat kamu lagi kesulitan, tapi kali ini aku nggak bisa menggantikan sifmu.”
Bersikap asertif bukan soal selalu mendapatkan yang kamu mau. Ini soal mengatakan dengan jujur di mana posisimu, sehingga kalian berdua bisa berangkat dari situasi yang sebenarnya, bukan dari “ya” yang tidak kamu maksudkan.
Dari mana datangnya rasa bersalah itu?
Rasa bersalah biasanya datang dari pikiran tentang apa arti berkata tidak, lebih daripada dari penolakannya sendiri. Ada dua jebakan pikiran yang sangat umum di sini.
Membaca pikiran menganggap kamu tahu apa yang akan dipikirkan orang lain: “Dia pasti menganggapku egois.” “Dia pasti marah besar.” Sering kali orang lebih pengertian daripada perkiraan kita, dan kalau tidak, itu pun memberitahumu sesuatu yang berguna.
Pernyataan “harus” menetapkan aturan yang tidak menyisakan ruang untuk kebutuhanmu sendiri: “Aku harus selalu menolong kalau diminta.” “Teman yang baik tidak pernah menolak.” Aturan seperti ini terdengar baik, tetapi kalau tidak pernah boleh dilanggar, kamu akhirnya berkata ya untuk segalanya.
Pertanyaan standar ganda bisa membantu: kalau seorang teman menolak sebuah permintaan karena ia kelelahan, apakah kamu akan menganggapnya egois? Kebanyakan orang tidak. Mereka akan menganggapnya wajar. Latihan Standar ganda memandumu menerapkan cara pandang yang lebih adil itu pada dirimu sendiri.
Bagaimana cara menolak dengan jelas dan baik?
Penolakan yang jelas dan baik biasanya punya tiga bagian:
- Tunjukkan bahwa kamu mendengar permintaannya. “Aku tahu kalian kekurangan orang hari Sabtu.”
- Berikan jawabanmu, terus terang. “Kali ini aku nggak bisa.”
- Tawarkan sesuatu, hanya kalau kamu mau. “Aku bisa bantu dua jam Minggu pagi, kalau itu membantu.”
Beberapa hal membuatnya lebih mudah:
- Buat singkat. Kamu tidak berutang penjelasan panjang. Makin banyak alasan yang kamu berikan, makin banyak yang bisa didebat.
- Pakai “aku”. “Minggu ini aku nggak bisa menambah tugas lagi” lebih mudah didengar daripada “Kamu selalu minta tolong ke aku.”
- Jangan minta maaf berlebihan. Satu kali “maaf” itu sopan. Lima kali membuatnya terdengar seolah kamu sudah berbuat salah.
- Ulur waktu kalau perlu. “Aku cek dulu ya, besok kukabari” memberimu ruang untuk memutuskan, alih-alih berkata ya secara otomatis.
Seperti apa dalam praktiknya?
Ini contoh rekaan. Atasanmu memintamu memegang proyek baru padahal kamu sudah lembur hampir setiap malam.
- Yang biasanya kukatakan: “Siap, nanti kuselipkan.”
- Yang kutakutkan akan terjadi kalau aku menolak: “Dia akan menganggap aku tidak serius bekerja.”
- Yang ingin kukatakan: “Aku ingin membantu proyek ini. Saat ini aku lembur hampir setiap malam untuk mengejar laporan-laporan. Kalau aku memegang proyek ini, laporan mana yang sebaiknya ditunda?”
Pesan itu asertif. Pesan itu tidak menolak mentah-mentah, tidak menyalahkan siapa pun, dan menaruh pertukaran yang sebenarnya di atas meja. Latihan Pesan asertif membantumu merencanakan pesan seperti ini sebelum kamu mengucapkan atau mengirimnya: apa yang ingin kamu sampaikan, bagaimana perasaanmu, apa yang kamu butuhkan, dan satu permintaan yang jelas, disusun dengan diawali kata “aku”.
Bagaimana kalau reaksi mereka buruk?
Kadang memang begitu. Sebagian orang terbiasa mendengar “ya” dan melawan beberapa kali pertama mereka mendengar “tidak”. Beberapa hal membantu:
- Tetap tenang dan ulangi. “Aku paham, dan aku tetap nggak bisa hari Sabtu.” Kamu tidak harus mencari argumen baru setiap kali.
- Akui perasaan mereka tanpa menarik kembali jawabanmu. “Aku lihat ini bikin kamu jadi repot.”
- Ingat bahwa rasa tidak nyaman tidak sama dengan bahaya. Merasa canggung selama beberapa menit adalah bagian wajar dari berkata tidak. Rasa itu biasanya memudar lebih cepat daripada rasa kesal.
Kalau seseorang menanggapi penolakan yang wajar dengan ancaman, hinaan, atau intimidasi, itu bukan masalah komunikasi yang bisa kamu perbaiki dengan kata-kata yang lebih baik. Mohon bicaralah dengan orang yang kamu percaya, atau lihat Cari bantuan.
Bagaimana supaya aku makin terampil?
Seperti keterampilan lainnya, bersikap asertif makin mudah dengan latihan. Mulailah di tempat yang taruhannya kecil: memberi tahu pelayan bahwa pesananmu salah, bilang kamu lebih suka menonton film lain, menolak tugas tambahan yang memang tidak sempat kamu kerjakan. Setiap kali, perhatikan apa yang kamu perkirakan akan terjadi dan apa yang sebenarnya terjadi. Kebanyakan orang mendapati selisihnya lebih lebar daripada dugaan mereka.
Seiring waktu, “ya” yang kamu berikan mulai lebih bermakna, karena orang tahu itu “ya” yang sungguhan.
Kapan sebaiknya aku bicara dengan seseorang?
Kalau kamu merasa sangat sulit berkata tidak di hampir semua situasi, kalau rasa bersalah atas kebutuhanmu sendiri datang terus-menerus, atau kalau kamu sering merasa murung atau tidak berharga, mohon bicaralah dengan doktermu atau tenaga profesional kesehatan mental. Jika kamu dalam bahaya sekarang, hubungi nomor darurat setempat.
Coba
Segera di App Store: Januari 2027
Sumber
- Alberti, R., & Emmons, M. (2017). Your Perfect Right: Assertiveness and Equality in Your Life and Relationships (10th ed.). Impact Publishers.
- Speed, B. C., Goldstein, B. L., & Goldfried, M. R. (2018). Assertiveness training: A forgotten evidence-based treatment. Clinical Psychology: Science and Practice, 25(1), e12216.
- Reframing unhelpful thoughts. Every Mind Matters, NHS.
Setiap sumber dibuka dan diperiksa oleh seseorang sebelum tulisan diterbitkan.